Apakah Anda pernah memperhatikan anak-anak yang ada di sekitar kita? Naga-naganya, perilaku anak-anak di lingkungan terdekat kita semakin mengkhawatirkan dari hari ke hari. Munculnya perilaku kekerasan, perundungan, ataupun tindakan indisipliner terus-menerus menghiasi pemberitaan hari ini. Apa yang sebenarnya terjadi? Apakah kita telah gagal dalam mendidik generasi muda?
Isu program yang sempat dipublikasikan ke publik oleh Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah RI ini seperti akan menjawab beberapa pertanyaan tersebut. Akan tetapi, hal yang harus menjadi titik fokus, selain pelaksanaan program baru yang mengusung tujuh kebiasaan anak Indonesia hebat di sekolah, pendidikan di lingkungan keluarga harus menjadi hal yang utama dan menjadi prioritas. Sebab, keluarga merupakan agen sosialisasi yang utama dan pertama bagi seorang anak. Artinya, keluarga memiliki peran yang penting dalam pembentukan kepribadian seorang anak.
Apabila kita perhatikan secara cermat, perubahan perilaku anak-anak yang semakin mengkhawatirkan tersebut merupakan sebuah tanda yang serius tentang kondisi sosial saat ini. Kekerasan, perundungan, dan tindakan indisipliner yang semakin sering terjadi di kalangan anak-anak adalah cerminan dari lingkungan tempat mereka tumbuh. Kondisi tersebut terpotret dalam data yang dikeluarkan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KemenPPPA), yakni terdapat 7.842 kasus kekerasan terhadap anak (Januari–Juni 2024) dengan 5.552 korban anak perempuan dan 1.930 korban anak laki-laki.
Apa yang menjadi akar permasalahan tersebut? Permasalahan tersebut, khususnya terkait kasus kekerasan terhadap anak, terjadi karena hilangnya fondasi moral yang kuat dalam diri anak-anak. Keluarga yang seharusnya menjadi benteng pertama dalam pembentukan karakter, kerap kali gagal menjalankan perannya. Ditambah lagi dengan pengaruh negatif dari media sosial dan lingkungan pergaulan yang tidak mendukung, anak-anak menjadi lebih rentan terhadap perilaku menyimpang. Hal ini diperkuat ahli parenting, Livingstone dan Ross (2019), yang mengungkapkan bahwa kurangnya pengawasan orang tua dalam penggunaan teknologi dapat memicu perilaku agresif dan tidak terkontrol pada anak-anak.
Munculnya krisis karakter pada anak terletak pada peran kedua orang tuanya di rumah. Pada masa lalu, keluarga merupakan sekolah pertama dan utama bagi anak. Orang tua adalah teladan dan guru pertama yang mengajarkan nilai-nilai moral, etika, dan sopan santun. Sebagai contoh, ketika orang tua secara konsisten menunjukkan sikap jujur dan adil dalam interaksi sehari-hari, anak-anak akan belajar untuk menghargai nilai-nilai tersebut. Begitu juga ketika orang tua selalu mengajarkan dan mencontohkan sikap saling menghormati, anak-anak akan cenderung meniru dan menerapkan sikap yang sama dalam pergaulan mereka.
Dengan semakin sibuknya orang tua dalam bekerja dan tuntutan hidup modern yang serba cepat, waktu yang berkualitas antara orang tua dan anak semakin berkurang. Banyak orang tua yang harus bekerja dari pagi hingga malam hari sehingga mereka tidak memiliki cukup waktu untuk berinteraksi dengan anak-anak. Sebuah penelitian menyebutkan bahwa anak-anak yang kurang mendapatkan perhatian dan pengawasan dari orang tua memiliki risiko lebih tinggi untuk menunjukkan perilaku menyimpang. Waktu berkualitas yang semakin berkurang ini menjadi salah satu faktor utama yang menghambat proses internalisasi nilai-nilai moral pada anak.
Akibatnya, proses internalisasi nilai-nilai moral pada anak menjadi terhambat. Tanpa bimbingan dan teladan langsung dari orang tua, anak-anak menjadi lebih rentan terpengaruh oleh lingkungan sekitar yang mungkin tidak selalu positif. Anda dapat membayangkan seorang anak yang terpengaruh secara negatif dalam perkembangan moralnya karena kurangnya waktu berkualitas dengan orang tua. Hal ini terjadi karena orang tuanya bekerja dari pagi hingga malam sehingga anak sering kali dibiarkan sendirian di rumah atau dengan pengasuh. Kurangnya perhatian dan pengawasan dari orang tua membuat anak lebih banyak menghabiskan waktu dengan bermain game online tanpa batasan waktu. Akibatnya, anak memiliki risiko lebih tinggi untuk melakukan tindakan kekerasan secara fisik ataupun verbal kepada orang lain karena menjadi pribadi yang agresif dan sulit diatur.
Bagaimana seharusnya keluarga berperan dalam mendidik karakter anak? Hal pertama yang dapat dilakukan oleh kedua orang tua adalah mengisi waktu dengan beragam aktivitas yang berkualitas. Ini bukan hanya tentang kuantitas waktu yang dihabiskan, tetapi lebih pada kualitas interaksi. Jadwalkan waktu khusus setiap hari untuk benar-benar fokus pada anak. Saat malam hari, ajaklah anak bercerita tentang harinya. Di akhir pekan, ajaklah anak bermain bersama di taman, berolahraga, atau membuat kerajinan tangan. Kegiatan-kegiatan ini tidak hanya menyenangkan, tetapi juga memperkuat ikatan emosional antara orang tua dan anak.
Di era digital, gadget menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan. Namun, terlalu banyak paparan layar dapat menghambat perkembangan sosial dan emosional anak. Batasi waktu penggunaan gadget pada anak, dan gantilah dengan aktivitas yang lebih bermanfaat. Ajak anak membaca buku, bermain permainan tradisional, atau membantu pekerjaan rumah tangga. Liburan keluarga juga menjadi momen yang tepat untuk mendekatkan diri dengan alam dan mengurangi ketergantungan pada gadget. Dengan begitu, anak akan memiliki lebih banyak waktu untuk berinteraksi dengan orang-orang di sekitarnya dan mengembangkan keterampilan sosialnya.
Upaya lain yang dapat dilakukan adalah memberikan teladan untuk anak-anak. Mengapa demikian? Anak-anak merupakan peniru yang sangat ulung. Tunjukkanlah sikap sopan santun, kejujuran, tanggung jawab, dan empati dalam kehidupan sehari-hari. Ketika Anda menunjukkan sikap hormat kepada orang lain, misalnya, anak Anda akan secara alami meniru perilaku tersebut. Selain itu, biasakan membaca bersama anak. Membaca buku cerita tidak hanya meningkatkan kemampuan bahasa dan kosakata anak, tetapi juga membuka jendela dunia baru bagi mereka. Diskusikan nilai-nilai positif yang terkandung dalam cerita, seperti keberanian, persahabatan, dan kerja sama. Dengan menjadi teladan yang baik dan membiasakan membaca bersama, Anda telah memberikan fondasi yang kuat bagi pertumbuhan karakter anak.
Selain beragam aktivitas tersebut, orang tua dapat membangun komunikasi yang mendalam dengan anaknya. Berikanlah kesempatan kepada anak untuk bebas mengekspresikan pikiran dan perasaannya tanpa merasa takut dihakimi. Dengarkan dengan penuh perhatian ketika anak berbicara, tunjukkan bahwa Anda benar-benar peduli dengan apa yang mereka katakan. Ciptakan suasana yang nyaman dan aman di rumah sehingga anak merasa bebas untuk berbagi cerita, kekhawatiran, ataupun impiannya. Jangan lupa untuk memberikan pujian dan dukungan yang tulus atas setiap usaha dan pencapaian anak, sekecil apa pun itu. Pujian yang tulus akan meningkatkan rasa percaya diri anak dan memotivasi anak-anak untuk terus berusaha. Kita harus selalu ingat bahwa anak-anak perlu merasa didengarkan dan dihargai untuk tumbuh menjadi pribadi yang sehat dan bahagia.
Langkah lainnya adalah membangun nilai-nilai luhur melalui fondasi nilai keagamaan. Ajarkan nilai-nilai agama sesuai dengan keyakinan keluarga secara konsisten dan penuh kasih sayang. Selain itu, jadikan nilai-nilai moral sebagai pedoman dalam kehidupan sehari-hari. Ajak anak untuk terlibat dalam kegiatan sosial, seperti membantu tetangga yang membutuhkan atau ikut serta dalam kegiatan membersihkan lingkungan. Dengan memberikan contoh nyata, anak akan lebih mudah memahami dan mengimplementasikan nilai-nilai kebaikan dalam hidupnya. Selain itu, ajak anak untuk berdiskusi tentang isu-isu sosial yang terjadi di sekitar mereka. Hal ini akan membantu anak mengembangkan rasa empati, kepedulian, dan tanggung jawab sosial. Dengan demikian, anak akan tumbuh menjadi individu yang beriman, berakhlak mulia, dan peduli terhadap sesama.
Penanaman pendidikan karakter dalam keluarga harus dilakukan secara konsisten. Ketika anak melakukan kesalahan, berikan konsekuensi yang logis sebagai akibat dari perbuatannya. Penyampaian konsekuensi tersebut harus disampaikan dengan tenang dan jelas. Misalnya, jika anak merusak mainan temannya, selain meminta maaf, anak juga perlu membantu memperbaiki mainan tersebut atau menggantinya. Di sisi lain, jangan lupa memberikan pujian dan hadiah ketika anak berhasil melakukan sesuatu yang baik. Apresiasi yang tulus akan memotivasi anak untuk terus berbuat baik. Dengan menerapkan disiplin yang konsisten dan memberikan penjelasan yang jelas, anak akan belajar mengambil tanggung jawab atas tindakannya dan memahami pentingnya aturan.
Untuk mengembangkan kemandirian dan rasa tanggung jawab pada anak, libatkan mereka dalam pengambilan keputusan keluarga. Hal ini membuat mereka merasa dihargai dan memiliki peran penting dalam keluarga. Selain itu, berikan tanggung jawab kecil sesuai dengan usia mereka, seperti merapikan kamar atau membantu menyiapkan makanan ringan. Melalui tanggung jawab, anak belajar tentang konsekuensi dari tindakan mereka dan mengembangkan rasa kepemilikan. Ajak pula anak untuk terlibat dalam kegiatan sosial, seperti mengunjungi panti asuhan atau membersihkan lingkungan sekitar. Kegiatan semacam ini tidak hanya mengajarkan empati dan kepedulian, tetapi juga memperluas wawasan anak tentang dunia di luar rumah. Dengan demikian, anak akan tumbuh menjadi individu yang mandiri, bertanggung jawab, dan peduli terhadap sesama.
Keluarga adalah sekolah pertama bagi anak. Dalam lingkungan keluarga, anak pertama kali belajar tentang nilai-nilai moral, etika, dan sosial. Orang tua sebagai figur utama dalam keluarga memiliki peran yang sangat krusial dalam membentuk karakter anak. Melalui interaksi sehari-hari, orang tua dapat menanamkan nilai-nilai positif seperti kejujuran, tanggung jawab, sopan santun, dan empati pada anak. Selain itu, keluarga juga menjadi tempat di mana anak belajar tentang arti kasih sayang, saling menghormati, dan bekerja sama.
Pendidikan karakter yang diberikan keluarga memiliki dampak jangka panjang bagi kehidupan anak. Nilai-nilai yang ditanamkan sejak dini akan menjadi pedoman bagi anak dalam menghadapi berbagai tantangan hidup. Anak yang memiliki karakter yang kuat akan lebih mampu menghadapi tekanan sosial, mengambil keputusan yang tepat, dan membangun hubungan yang sehat dengan orang lain. Keluarga perlu memberikan perhatian yang serius terhadap pendidikan karakter anak sejak usia dini. Dengan memberikan contoh yang baik, menciptakan lingkungan yang positif, dan berkomunikasi secara efektif, keluarga dapat membantu anak tumbuh menjadi pribadi yang berkarakter mulia.
Apakah semua keluarga Indonesia sudah mendidik anaknya dengan tepat? Apabila pendidikan keluarga dalam mendidik karakter anaknya berjalan, Kemendikdasmen RI tidak akan terlalu berat dalam menjalankan program pembiasaan tujuh kebiasaan anak Indonesia hebat di tahun pelajaran esok. Kemendikdasmen RI dalam menjalankan program pengembangan karakter siswa yang kuat dan berkarakter tinggal membangun sinergi yang kuat antara pihak sekolah dan keluarga. Keluarga perlu mendukung dan mengimplementasikan nilai-nilai yang diajarkan di sekolah dalam kehidupan sehari-hari. Dengan begitu, anak akan memiliki pengalaman belajar yang konsisten dan berkesinambungan.
Pendidikan karakter bukan hanya tanggung jawab sekolah, tetapi juga tanggung jawab keluarga. Konsistensi dalam menerapkan nilai-nilai moral di rumah dan di sekolah sangat penting. Jika di sekolah anak diajarkan tentang pentingnya kejujuran, misalnya, maka di rumah orang tua juga harus memberikan contoh perilaku jujur. Dengan begitu, nilai-nilai tersebut akan terinternalisasi dengan baik dalam diri anak.
Semoga program pembiasaan tujuh kebiasaan anak Indonesia hebat yang dicanangkan Kemendikdasmen dapat didukung oleh seluruh keluarga Indonesia. Jika seluruh keluarga di Indonesia berkontribusi aktif dalam program tersebut, niscaya seluruh siswa Indonesia menjadi generasi emas di kemudian hari, tanpa harus menunggu tahun 2045.
Yadi Mulyadi
*Praktisi pendidikan dan penulis