Akhir-akhir ini, ramai pemberitaan di jagat media sosial tentang rencana pemerintah untuk memperbaiki buku pelajaran bagi jenjang SD, SMP, dan SMA. Terlepas dari kehebohan warganet tentang hal tersebut, sebenarnya kita patut mengapresiasi upaya yang akan dilakukan pemerintah tersebut. Mengapa demikian? Buku teks pelajaran memiliki peran penting dalam membantu murid dalam memperoleh pengetahuan secara terstruktur dan memberikan arah yang jelas bagi proses pembelajaran.
Rencana pemerintah tersebut dilakukan dengan adanya upaya untuk membandingkan buku teks pelajaran Indonesia dengan buku dari sejumlah negara, antara lain Thailand, Malaysia, Brunei Darussalam, Timor-Leste, Kamboja, dan Vietnam. Dari sisi substansi, buku teks pelajaran tersebut diharapkan semakin memperkuat wawasan kebangsaan, nasionalisme, sains dan teknologi, matematika, serta penguasaan bahasa asing. Dari sisi fisik, kualitas buku juga akan diperhatikan melalui penggunaan huruf yang lebih mudah dibaca, bahan yang lebih baik, dan tampilan yang lebih menarik.
Tak bisa dimungkiri bahwa hal tersebut merupakan hal yang penting. Namun, ada satu pertanyaan yang layak ditempatkan di tengah pembahasan tersebut, yaitu bagaimana memastikan bahwa perbaikan buku benar-benar berkontribusi terhadap perbaikan pembelajaran? Pertanyaan ini bukan untuk mempertentangkan buku dengan guru ataupun teknologi. Sebaliknya, pertanyaan ini penting agar kebijakan perbaikan buku dapat ditempatkan dalam kerangka yang lebih luas, yaitu penguatan ekosistem pembelajaran Indonesia.
Buku yang Lebih Baik
Buku teks pelajaran yang baik merupakan salah satu fondasi penting dalam pendidikan. Buku menyediakan struktur pengetahuan, membantu murid dalam memahami konsep secara bertahap, memberikan contoh dan latihan, serta menjadi salah satu sumber belajar yang dapat digunakan baik oleh guru dan murid. Oleh karena itu, upaya meningkatkan kualitas buku pelajaran merupakan bagian yang wajar dalam agenda peningkatan mutu pendidikan.
Buku yang baik seharusnya memiliki isi yang akurat, bahasa yang jelas, struktur yang sistematis, ilustrasi yang mendukung pemahaman, serta materi yang relevan dengan kehidupan murid. Akan tetapi, kualitas buku teks pelajaran tidak seharusnya hanya diukur dari kualitas benda fisiknya.
Kertas yang lebih baik tentu membuat buku lebih tahan lama. Huruf yang lebih besar dapat meningkatkan keterbacaan. Ilustrasi yang menarik dapat membantu pemahaman. Desain yang baik dapat meningkatkan kenyamanan membaca. Akan tetapi, pertanyaan yang lebih mendasar adalah apa yang terjadi ketika murid berinteraksi dengan buku tersebut?
Apakah mereka hanya membaca dan menghafal? Ataukah mereka terdorong untuk bertanya, menganalisis, menghubungkan pengetahuan dengan kehidupan sehari-hari, memecahkan masalah, dan menghasilkan sesuatu? Di sinilah kualitas buku bertemu dengan kualitas pembelajaran.
Buku yang baik bukan sekadar buku yang menyajikan lebih banyak informasi. Buku yang baik adalah buku yang membantu murid menggunakan pengetahuan untuk berpikir dan bertindak. Oleh karena itu, perbaikan buku sebaiknya tidak berhenti pada pertanyaan tentang seberapa baik buku tersebut sebagai produk, tetapi juga mempertimbangkan seberapa efektif buku tersebut sebagai sarana belajar.
Dunia Belajar yang Berubah
Sekelumit terkait buku teks pelajaran tersebut tidak dapat dilepaskan dari perubahan besar dalam ekosistem pengetahuan. Hari ini, murid hidup dalam lingkungan yang berbeda dari generasi sebelumnya. Pengetahuan tidak lagi hanya tersedia melalui buku cetak atau penjelasan guru.
Internet menyediakan berbagai sumber informasi. Video pembelajaran menawarkan penjelasan dalam berbagai bentuk. Perpustakaan digital memperluas akses terhadap bahan bacaan. Platform pembelajaran memungkinkan interaksi tanpa batas ruang. Mesin pencari menyediakan informasi dalam hitungan detik. Kecerdasan artifisial pun memungkinkan murid memperoleh respons terhadap pertanyaan secara hampir seketika.
Perubahan tersebut semakin cepat setelah pandemi COVID-19 memperluas penggunaan teknologi dalam pembelajaran. Akibatnya, persoalan pendidikan tidak lagi semata-mata berkaitan dengan akses terhadap informasi. Persoalan yang semakin penting adalah kemampuan murid dalam mengelola informasi. Informasi yang tersedia belum tentu benar. Informasi yang menarik belum tentu relevan. Informasi yang sering muncul belum tentu dapat dipercaya. Dalam situasi seperti ini, murid membutuhkan kemampuan untuk membaca secara kritis, memeriksa sumber, membandingkan informasi, memahami bukti, mengenali bias, dan mengambil kesimpulan berdasarkan alasan yang dapat dipertanggungjawabkan.
Kehadiran kecerdasan artifisial memperkuat tantangan tersebut. Ketika jawaban dapat diperoleh dengan sangat mudah, pendidikan tidak boleh hanya berfokus pada kemampuan menemukan jawaban. Pendidikan perlu mengembangkan kemampuan untuk memahami mengapa jawaban tersebut dapat dipercaya, bagaimana jawaban tersebut diperoleh, dan apakah jawaban tersebut dapat dipertanggungjawabkan. Dengan demikian, perubahan teknologi bukan sekadar perubahan alat, melainkan dapat membawa konsekuensi terhadap cara kita mendefinisikan pembelajaran.
Buku dalam Ekosistem Pembelajaran
Dalam ekosistem pengetahuan yang semakin kompleks, buku teks pelajaran justru memiliki peluang untuk memainkan fungsi yang lebih strategis. Buku teks pelajaran tidak perlu bersaing dengan internet, video, atau kecerdasan artifisial, dalam hal jumlah informasi. Buku memiliki fungsi yang lebih penting, yakni membantu murid untuk membangun pemahaman yang terstruktur dan mengembangkan kemampuan berpikir. Oleh karena itu, buku teks pelajaran masa kini seharusnya tidak hanya memberikan informasi, tetapi juga menyediakan pengalaman belajar.
Materi dalam buku teks pelajaran harus diikuti dengan pertanyaan yang menuntut penalaran. Begitupun konsep yang dapat dihubungkan dengan persoalan nyata. Data dapat digunakan untuk mengajak murid dalam melakukan analisis. Pun dengan informasi yang dapat dibandingkan dengan sumber lain. Bahkan, sebuah permasalahan dapat dikembangkan menjadi projek atau penyelidikan. Dengan demikian, buku dapat menjadi titik awal bagi berbagai aktivitas pembelajaran.
Pada titik ini, peran guru menjadi sangat penting. Guru membantu murid memahami konteks, mengembangkan pertanyaan, memberikan umpan balik, mengarahkan diskusi, dan memastikan bahwa penggunaan berbagai sumber informasi tetap berada dalam kerangka pembelajaran yang bermakna. Dengan demikian, buku dan guru tidak seharusnya ditempatkan dalam hubungan yang saling menggantikan.
Buku menyediakan sumber belajar; guru menghidupkan proses belajar. Hal yang sama berlaku juga untuk teknologi. Teknologi dapat memperluas akses, menyediakan simulasi, memperkaya sumber belajar, dan membuka berbagai kemungkinan baru. Namun, teknologi tidak secara otomatis menghasilkan pembelajaran yang lebih baik.
Kelas yang menggunakan layar digital, tetapi masih menerapkan pola pembelajaran satu arah, pada dasarnya belum mengalami perubahan pedagogis yang mendasar. Perubahan alat tidak selalu berarti perubahan cara belajar. Transformasi pendidikan terjadi ketika teknologi digunakan untuk menciptakan pengalaman belajar yang lebih aktif, kolaboratif, kontekstual, reflektif, dan relevan. Dengan demikian, hal yang perlu dibangun bukan sekadar ekosistem teknologi, tetapi ekosistem pembelajaran.
Dari Pembandingan Buku ke Ekosistem Pendidikan
Membandingkan buku teks pelajaran Indonesia dengan buku dari negara lain merupakan langkah yang dapat memberikan perspektif baru. Pembandingan tersebut akan lebih bermakna apabila dilakukan dalam kerangka yang lebih luas.
Jika kita ingin belajar dari negara lain, hal yang perlu dibandingkan bukan hanya bukunya, tetapi juga guru, pedagogi, asesmen, budaya belajar, pemanfaatan teknologi, dukungan sekolah, dan hasil belajar muridnya. Berbagai hal tersebut sangat penting karena buku tidak bekerja dalam ruang hampa. Buku digunakan oleh guru, dipelajari oleh murid, ditempatkan dalam kurikulum, digunakan dalam proses asesmen, dan diimplementasikan dalam lingkungan sekolah tertentu. Dengan demikian, upaya pembandingan yang hanya melihat buku berisiko memberikan gambaran yang tidak lengkap.
Jika sebuah negara memiliki buku yang baik dan menghasilkan pembelajaran yang baik, kita perlu memahami bukan hanya apa yang tertulis dalam bukunya, tetapi juga mengapa buku tersebut dapat bekerja dengan baik dalam sistem pendidikannya. Dengan demikian, benchmarking pendidikan sebaiknya bergerak dari sekadar pembandingan produk (buku teks pelajaran) menuju pembandingan ekosistem pendidikan. Hal ini juga akan sangat membantu dalam menentukan prioritas investasi pendidikan secara lebih tepat.
Memperkuat Buku, Memperkaya Pembelajaran
Pada akhirnya, perbaikan buku teks pelajaran seharusnya menjadi bagian dari agenda yang lebih besar untuk memperkuat kualitas pembelajaran. Buku teks pelajaran perlu diperbaiki, tetapi pada saat yang sama, guru juga perlu diperkuat. Selain itu, pedagogi perlu dikembangkan, literasi digital perlu ditingkatkan, dan teknologi perlu digunakan secara tepat. Bahkan, lingkungan belajar perlu dibangun agar mendukung murid untuk berpikir, berkarya, bekerja sama, dan terus belajar. Dengan pendekatan tersebut, buku teks pelajaran tidak hanya menjadi produk yang dibagikan kepada murid, tetapi menjadi bagian dari pengalaman belajar yang lebih bermakna.
Keberhasilan buku teks pelajaran pada akhirnya tercermin dari dampaknya terhadap murid setelah mereka menggunakannya. Buku teks pelajaran yang baik tidak hanya membantu murid memahami materi, tetapi juga mendorong mereka untuk bertanya, menilai dan membedakan informasi yang dapat dipercaya, menggunakan pengetahuan untuk memecahkan masalah, bekerja sama, menghasilkan karya, serta merefleksikan pengalaman belajarnya. Dengan demikian, keberhasilan buku tidak semata-mata ditentukan oleh kualitas isi, desain, atau bahan cetaknya, tetapi juga oleh sejauh mana buku tersebut mampu mendukung terjadinya pembelajaran yang bermakna.
Pada akhirnya, pendidikan tidak hanya membutuhkan buku yang lebih baik, tetapi juga pengalaman belajar yang lebih baik. Buku merupakan bagian dari ekosistem tersebut. Guru menghidupkan proses pembelajaran, pedagogi mengarahkannya, teknologi memperluas kemungkinan belajar, dan murid menjadi pusat dari seluruh proses tersebut.
Akhir kata, memperkuat buku teks pelajaran, bukanlah tujuan akhir. Memperkuat buku teks pelajaran merupakan salah satu cara untuk memperkaya pembelajaran.
Yadi Mulyadi
*Praktisi Pendidikan, Penulis Buku Teks Pelajaran