Hasil PISA 2025 membawa kabar yang cukup menggembirakan sekaligus menyisakan pekerjaan rumah yang besar bagi pendidikan Indonesia. Skor sains dan membaca meningkat dibandingkan PISA 2022. Sains naik 6 poin dan membaca naik 7 poin. Namun, matematika justru turun 2 poin.
Sekilas, angka tersebut menunjukkan adanya perbaikan. Akan tetapi, kenaikan skor belum cukup untuk menyimpulkan bahwa pendidikan Indonesia telah mengalami perubahan mendasar. Di balik kenaikan tersebut masih terdapat persoalan yang jauh lebih besar, terutama terkait kemampuan dasar peserta didik. PISA 2025 sebaiknya tidak dibaca hanya sebagai laporan tentang naik atau turunnya skor Indonesia. Hasil tersebut perlu dibaca sebagai gambaran tentang kemampuan peserta didik dalam memahami informasi, menggunakan pengetahuan, memecahkan masalah, dan menghadapi kehidupan yang semakin kompleks.

![]() |
|
Naik Skor, Belum Tentu Naik Kemampuan
Sumber: PISA 2025 Results, OECD (2026)
Dalam PISA 2025, Indonesia memperoleh skor 389 untuk sains, 365 untuk membaca, dan 364 untuk matematika. Indonesia juga memperoleh skor 427 dalam computational problem solving, yaitu kemampuan menyelesaikan persoalan dengan memanfaatkan cara berpikir dan perangkat komputasional dalam lingkungan digital.
Dibandingkan PISA 2022, peningkatan terjadi pada sains dan membaca. Kenaikan tersebut tentu patut diapresiasi. Setiap peningkatan menunjukkan adanya sinyal positif dalam sistem pendidikan. Namun, kenaikan beberapa poin tidak serta-merta menunjukkan terjadinya transformasi pendidikan.
Ada perbedaan antara skor yang meningkat dan kemampuan belajar yang berubah. Perubahan yang sesungguhnya baru dapat dikatakan terjadi apabila peserta didik bukan hanya memperoleh nilai yang lebih baik, melainkan semakin mampunya memahami persoalan, menghubungkan informasi, menilai bukti, menggunakan pengetahuan, serta menyesuaikan strategi ketika menghadapi situasi baru. Dengan demikian, kenaikan skor perlu dipandang sebagai sebuah sinyal positif, bukan sebagai alasan untuk menyatakan bahwa persoalan pendidikan telah selesai.
60,9 Persen: Angka yang Seharusnya Menjadi Perhatian
Salah satu temuan PISA 2025 yang paling penting bagi Indonesia adalah besarnya proporsi peserta didik yang masih berada pada tingkat kemampuan rendah. Dalam indikator gabungan sains, membaca, dan matematika, sekitar 60,9 persen peserta didik Indonesia berada di bawah Level 2. Sementara itu, peserta didik yang mencapai Level 5 atau 6 hanya sekitar 0,1 persen. Angka tersebut memberikan gambaran yang jauh lebih penting daripada sekadar posisi Indonesia dalam peringkat internasional.
Masalah pendidikan Indonesia tidak hanya sebatas pada cara menghasilkan peserta didik yang mampu mencapai prestasi tinggi. Tantangan yang lebih mendasar adalah memastikan sebanyak mungkin peserta didik memiliki kemampuan dasar yang memungkinkan mereka untuk terus belajar dan berkembang. Jika sebagian besar peserta didik belum mencapai kemampuan dasar tersebut, persoalannya berada pada fondasi pendidikan. Oleh karena itu, kenaikan skor harus dibaca secara hati-hati. Ada kemajuan yang patut dihargai, tetapi masih terdapat kelompok peserta didik yang sangat besar yang membutuhkan penguatan kemampuan dasar.
Literasi Tidak Boleh Berhenti pada Menemukan Jawaban
Peningkatan skor membaca juga memberikan peluang untuk melihat kembali bagaimana literasi diajarkan di sekolah. Kemampuan membaca pada masa kini tidak cukup hanya dengan menemukan informasi yang tertulis secara langsung dalam teks. Peserta didik hidup dalam lingkungan informasi yang jauh lebih kompleks.
Mereka membaca berita, unggahan media sosial, iklan, grafik, infografik, artikel digital, hasil pencarian internet, hingga informasi yang dihasilkan oleh kecerdasan artifisial. Dalam situasi tersebut, kemampuan membaca harus berkembang menjadi kemampuan untuk mengolah informasi. Peserta didik perlu mampu menghubungkan informasi dari berbagai sumber, menafsirkan makna, membandingkan bukti, menilai kredibilitas informasi, mengenali kesalahan penalaran, dan menarik kesimpulan yang dapat dipertanggungjawabkan.
Literasi sebaiknya tidak berhenti pada kemampuan menemukan jawaban dalam teks. Literasi berkembang menjadi kemampuan menggunakan informasi untuk berpikir dan bertindak. Perubahan ini penting karena kehidupan nyata jarang menyediakan persoalan dengan jawaban yang sudah tersedia secara langsung. Seseorang sering kali harus mencari informasi dari berbagai sumber, menentukan mana yang dapat dipercaya, kemudian menggunakan informasi tersebut untuk mengambil keputusan. Dalam hal ini, sekolah perlu mempersiapkan peserta didik menghadapi kondisi tersebut.
Matematika dan Persoalan Kehidupan Nyata
Matematika juga perlu ditempatkan dalam konteks yang lebih luas. Penurunan skor matematika Indonesia sebesar 2 poin dibandingkan PISA 2022 memang tidak terlalu besar, tetapi tetap menjadi sinyal yang perlu diperhatikan. Kemampuan matematika bukan hanya pada persoalan melakukan operasi hitung atau menyelesaikan soal dengan rumus tertentu. Matematika digunakan untuk membaca data, memahami grafik, membandingkan pilihan, memperkirakan risiko, mengelola keuangan, dan mengambil keputusan. Dengan demikian, pembelajaran matematika perlu memberikan lebih banyak ruang bagi peserta didik untuk menggunakan konsep matematika dalam situasi nyata.
Kemampuan menghitung harus berjalan bersama kemampuan memahami makna hasil perhitungan. Kemampuan menggunakan rumus perlu disertai kemampuan menentukan kapan dan mengapa rumus tersebut digunakan. Penyelesaian soal perlu diikuti dengan kemampuan memeriksa apakah hasil yang diperoleh masuk akal. Dengan demikian, matematika tidak hanya menjadi mata pelajaran yang harus dikuasai, tetapi menjadi alat untuk memahami dunia.
Computational Problem Solving dan Tantangan Era AI
PISA 2025 memperkenalkan computational problem solving sebagai salah satu bentuk asesmen baru. Indonesia memperoleh skor 427, masih di bawah rata-rata OECD sebesar 500. Kemampuan ini penting karena dunia kerja dan kehidupan sosial semakin terhubung dengan lingkungan digital. Peserta didik tidak cukup hanya menjadi pengguna teknologi. Mereka perlu memahami cara kerja teknologi, memanfaatkannya untuk menyelesaikan masalah, merespons umpan balik, dan menyesuaikan strategi ketika menghadapi persoalan baru.
Tantangan tersebut semakin besar dengan berkembangnya kecerdasan artifisial. Kehadiran AI membuat akses terhadap informasi menjadi semakin mudah. Namun, kemudahan tersebut sekaligus meningkatkan kebutuhan terhadap kemampuan berpikir kritis. Peserta didik dapat memperoleh jawaban dalam hitungan detik, tetapi jawaban yang cepat tidak selalu berarti jawaban yang benar. Oleh karena itu, pembelajaran AI di sekolah tidak hanya cukup berhenti pada kemampuan menggunakan aplikasi. Peserta didik juga harus dibekali kemampuan mengevaluasi hasil AI, memeriksa bukti, mengenali kemungkinan kesalahan, dan menggunakan AI sebagai alat bantu berpikir.
Guru Tetap Menjadi Kekuatan Utama
Di tengah berbagai persoalan tersebut, PISA 2025 juga memperlihatkan modal positif yang penting. Salah satunya adalah meningkatnya dukungan guru yang dirasakan peserta didik. Indonesia termasuk sistem pendidikan yang menunjukkan peningkatan besar dalam laporan peserta didik mengenai dukungan guru dalam pembelajaran sains dibandingkan 2015. Temuan tersebut penting karena perubahan pendidikan pada akhirnya tidak hanya ditentukan oleh kurikulum atau teknologi.
Keduanya baru memberikan dampak ketika diterjemahkan menjadi pengalaman belajar di dalam kelas. Guru menjadi aktor penting dalam proses tersebut. Guru yang mampu menciptakan ruang bagi peserta didik untuk bertanya, mencoba, mengalami kegagalan, memperbaiki strategi, berdiskusi, dan merefleksikan pembelajaran akan membantu peserta didik membangun kemampuan yang lebih kompleks. Oleh karena itu, peningkatan kompetensi guru perlu menjadi bagian utama dari agenda perbaikan pendidikan Indonesia.
Peserta Didik Memiliki Modal untuk Berkembang
PISA 2025 juga menunjukkan adanya modal positif dari sisi peserta didik. Indonesia termasuk negara dengan proporsi sangat tinggi peserta didik yang menunjukkan ketertarikan untuk berkontribusi pada perlindungan lingkungan melalui pekerjaan mereka di masa depan. Angkanya lebih dari 90 persen. Temuan tersebut menunjukkan adanya kepedulian peserta didik terhadap persoalan nyata di sekitarnya.
Potensi tersebut dapat menjadi sumber pembelajaran yang kuat. Persoalan lingkungan dapat digunakan sebagai konteks untuk membaca informasi, menganalisis data, melakukan penelitian, berdiskusi, menggunakan teknologi, menyusun argumentasi, dan merancang solusi. Dengan cara tersebut, pembelajaran menjadi lebih dekat dengan kehidupan.
Peserta didik tidak hanya belajar mengenai lingkungan, tetapi menggunakan kemampuan membaca, matematika, sains, teknologi, komunikasi, dan kolaborasi untuk memahami serta menyelesaikan persoalan lingkungan. Inilah bentuk pembelajaran yang menghubungkan pengetahuan dengan tindakan.
Persoalan Utamanya Ada di Ruang Kelas
Jika seluruh temuan tersebut disatukan, persoalan pendidikan Indonesia tidak dapat diselesaikan hanya dengan menambah program, mengganti dokumen, atau memperkenalkan teknologi baru. Perubahan yang paling penting harus terjadi dalam pengalaman belajar peserta didik di ruang kelas.
Pembelajaran perlu memberi lebih banyak kesempatan kepada peserta didik untuk memahami informasi secara mendalam, menghubungkan berbagai pengetahuan, menghadapi masalah, mengevaluasi bukti, mencoba berbagai strategi, menghasilkan solusi, dan merefleksikan hasil belajar. Pembelajaran bergerak dari sekadar mengetahui menuju memahami, dari memahami menuju mengaplikasikan, dan dari mengaplikasikan menuju merefleksikan. Dengan demikian, perubahan tersebut membuat peserta didik tidak hanya belajar untuk menjawab soal, tetapi belajar untuk menghadapi kehidupan.
PISA Bukan Sekadar Papan Peringkat
PISA 2025 seharusnya menjadi cermin bagi pendidikan Indonesia. Cermin tersebut memperlihatkan adanya kemajuan. Sains dan membaca mengalami peningkatan. Dukungan guru menunjukkan perkembangan positif. Peserta didik juga memiliki kepedulian terhadap persoalan lingkungan dan menunjukkan potensi untuk berkembang.
Namun, cermin yang sama memperlihatkan pekerjaan rumah yang sangat besar. Proporsi peserta didik dengan kemampuan rendah masih tinggi. Matematika belum menunjukkan perbaikan. Kemampuan computational problem solving masih berada di bawah rata-rata OECD. Oleh karena itu, keberhasilan pendidikan tidak seharusnya diukur hanya dari kenaikan skor atau posisi peringkat.
Ukuran yang lebih penting adalah perubahan pada kemampuan peserta didik. Mereka harus semakin mampu memahami informasi, mengintegrasikan berbagai sumber, mengevaluasi bukti, memecahkan masalah, menggunakan teknologi secara kritis, dan menerapkan pengetahuan dalam situasi nyata. Pada akhirnya, pendidikan tidak cukup menghasilkan anak yang tahu banyak. Pendidikan harus menghasilkan anak yang mampu menggunakan apa yang mereka tahu.
Di situlah makna penting PISA 2025 bagi Indonesia. Naik skor adalah kabar baik. Naik kemampuan adalah tujuan. Mengubah cara belajar adalah jalan menuju transformasi pendidikan.
*Praktisi Pendidikan